{"fatawa":{"id":3826,"title":"Ingin Masuk Islam Tetapi Tidak Mau Meninggalkan Suami yang Kafir","slug":"ingin-masuk-islam-tetapi-tidak-mau-meninggalkan-suami-yang-kafir","order":"","question":"Dalam tugas berdakwah kepada wanita-wanita kafir kami dari beberapa Islamic Centre menghadapi satu problematika berkaitan dengan persoalan isteri yang suaminya kafir. Wanita itu ingin masuk Islam, tetapi sulit untuk mengorbankan rumah tangganya, terutama ketika mereka sudah dikarunia beberapa orang anak dan kebetulan suaminya baik budi, sehingga ia dikuasai rasa cinta kepada suaminya tersebut. Sementara kami tahu bahwa wanita kafir yang masuk Islam, tidak boleh meneruskan rumah tangganya dengan suaminya yang kafir, berdasarkan firman Allah: \"Wanita-wanita mukminah itu tidak halal bagi mereka, dan mereka juga tidak halal bagi wanita-wanita itu.\" Bagaimana kami menghadapi problematika ini? Apakah boleh kita memvokuskan perhatian pada keislaman mereka, sementara mengabaikan persoalan lain tersebut?","answer":"<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\">\r\n<div class=\"answer\" style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: large;\">Pertanyaan di atas telah kami ajukan kepada Syaikh Muhammadi Shalih Al-Utsaimin <\/span>\r\n<p>&nbsp;<\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">. \"Ada seorang wanita yang ingin masuk Islam, sementara suami saya baik budi dan saya tidak ingin berpisah dengannya. Apa yang harus saya lakukan?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau menjawab:<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Ia harus berpisah dengan suaminya. Akan tetapi apakah masih mungkin baginya untuk mendakwahi suaminya itu? Misalnya ia katakan: \"Saya ingin masuk Islam. Kalau saya masuk Islam, nikah kita batal, kecuali bila engkau juga masuk Islam.\" Mudah-mudahan bila ia mengingatkan demikian, sang suami akan menyetujui ajakannya tersebut.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Kalau wanita itu masuk Islam, apakah ia tetap di rumah itu ketika mendakwahi suaminya, atau harus meninggalkan rumah?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau menjawab: \"Kalau ia masih mengharapkan keislaman suaminya, ia bisa tinggal di rumah itu hingga berakhir masa iddah.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Apakah si wanita boleh memperlihatkan auratnya dalam masa iddah tersebut?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau menjawab: \"Untuk menjaga-jaga, sebaiknya ia tidak membuka auratnya. Karena belum pasti si suami akan setuju masuk Islam.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Bagaimana dengan berkhalwat?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau menjawab: \"Berkhalwat (berduaan di kamar) juga tidak boleh.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Kalau dengan diberitahukan semacam itu si wanita menjadi terhalangi masuk Islam, apakah boleh menurut syariat kita menutupi bagian kedua dari jawaban tersebut. Misalnya kita Katakan kepadanya: \"Masuk Islam dulu, baru nanti kami beri jawaban tentang boleh tidaknya meneruskan pernikahan.\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau menjawab: \"Tidak. Kalau kita katakan demikian, lalu kita beritahukan hukumnya, kemudia ia kembali murtad, persoalannya akan lebih besar lagi. Oleh sebab itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ketika beliau mengutuskan ke Ahli Khaibar:<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\"><em>\"Ajaklah mereka masuk Islam dan beritahukan kepada mereka hak Allah yang harus mereka tunaikan dalam hal itu.\"<\/em><\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Kalau wanita itu tetap saya hidup dengan suaminya setelah Islam, berarti ia melakukan dosa besar?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau menjawab: \"Ya. Tetapi apa boleh terus-menerus dalam zina?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">\"Apa kesimpulan dari jawaban kita kepadanya?\"<\/span><\/p>\r\n<p><span style=\"font-size: large;\">Beliau berkata:<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">\"Masuk Islam dan harus Saudari ketahui bahwa kalau saudari masuk Islam, berarti pernikahan saudari dengan suami saudari sudah batal.\"<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">Ketika berdakwah kepada wanita-wanita yang hendak masuk Islam itu, hendaknya divokuskan beberapa hal berikut dengan penjelasan yang gamblang:<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">a. Mendahulukan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, daripada cinta kepada selain keduanya.<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">b. Kalau wanita itu iklas dalam mendakwahi suaminya dan mendoakannya, bisa jadi sang suami akan masuk Islam di tangannya.<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">c. Orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik darinya.<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">d. Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang berkorban dengan yang dia cintai karena Allah.<\/span><br \/><span style=\"font-size: large;\">Demikian pula hendaknya harus diselesaikan persoalan wanita tersebut kalau ternyata ia masuk Islam dan berpisah dengan suaminya; dengan mencarikan saudara seiman yang mau menikahinya dan mengikutsertakan anak-anak mereka. Atau bila ada di antara dermawan kaum muslimin yang mau bersedekah kepada mereka semua. Kami memohonkan hidayah, taufik dan kebenaran kepada Allah. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.<\/span><\/p>\r\n<\/div>\r\n<div class=\"source\" style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-size: large;\">Syaikh Muhammad Shalih bin Utsaimin<\/span><\/div>\r\n<p style=\"text-align: center;\">&nbsp;<\/p>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>\r\n<\/div>","status":1,"created_at":"2015-05-22T06:00:00.000000Z","updated_at":"2015-05-22T06:00:00.000000Z","language_id":48,"fatawacate_id":17,"parent_id":3820,"author_id":"","books":[],"articles":[],"videos":[],"audios":[],"author_name":"","category_name":"Alliance and Amity, Disavowal and Enmity","category_slug":"","get_date":"2015-05-22"},"translations":[],"fatawa_books":[],"fatawa_articles":[],"fatawa_videos":[],"fatawa_audios":[],"url":"http:\/\/islamland.com\/ind\/api\/fatawas\/3826"}